Deteksi Kandungan Pengawet Makanan

Sumber gambar: Freepik

Deteksi kandungan bahan pengawet buatan pada makanan kemasan dapat dilakukan dengan cara yang cukup sederhana yaitu dengan membaca bagian komposisi (bahan yang digunakan) pada kemasan makanan

Bahan-bahan yang menandakan adanya kandungan pengawet buatan pada makanan adalah alfa-tokoferol (vitamin E), asam askorbat (vitamin C), asam fumarat, asam laktat, asam propionat, asam sorbat/potasium sorbat, butylated hydroxyanisole (BHA), butylated hydroxytoluene (BHT), kalsium prprionat/sodium proprionat, ethylenediamine tetraacetic acid (EDTA), propil galat, sodium benzoat/asam benzoat, sodium klorida (garam), sodium nitrat/sodium nitrit, sulfit (sodium bisulfit, sulfur dioksida).1,2,3

Di Indonesia, bahan pengawet yang seharusnya tidak dimasukkan ke dalam makanan juga marak diberitakan penggunaannya. Bahan pengawet berbahaya yang umum diberitakan adalah formalin dan boraks. 

Penggunaan formalin sebagai pengawet makanan memang sangat berbahaya karena di dalam tubuh, formalin sangat toksik (beracun) dan bersifat karsinogenik.4 Formalin sebenarnya dimanfaatkan sebagai pembersih (lantai, pakaian, gudang, kapal), pembunuh serangga, pembuatan gelas, bahan peledak, pengeras lapisan gelatin dan kertas dalam fotografi, bahan pengawet mayat, bahan pembuatan parfum, pengawet produk kosmetik, dan perekat kayu lapis.5  

Sementara itu, asupan makanan yang mengandung boraks dapat menyebabkan gangguan lambung, usus, hati, hingga gagal ginjal akut.4 Boraks sebenarnya dimanfaatkan untuk pembuatan gelas dan enamel, mematri logam, campuran pembersih, pembasmi kecoa, dan anti jamur kayu.5

Menghindari konsumsi formalin dan boraks dari makanan yang tidak kita harapkan tentu perlu dilakukan. Lakukan deteksi formalin dan boraks dalam makanan dengan memperhatikan karakteristik makanan. Berikut adalah ciri makanan yang mengandung formalin.

Tabel karakteristik makanan yang mengandung formalin

Bahan makananKarakteristik jika mengandung formalin
IkanWarna daging: putih bersih
Warna insang: tidak merah segar, melainkan merah tua
Tekstur: daging kenyal
Aroma: tidak ada aroma amis khas ikan, terdapat bau menyengat khas formalin
Umur simpan: dapat tahan beberapa hari jika disimpan pada suhu kamar (±25°C)
Ayam potongWarna: putih bersih
Umur simpan: dapat tahan beberapa hari jika disimpan pada suhu kamar
TahuBentuk: sangat bagus dan rapi
Tekstur: kenyal, halus, tidak mudah hancur
Aroma: aroma khas kedelai kurang tercium, terdapat bau menyengat
Umur simpan: dapat tahan hingga 3 hari jika disimpan pada suhu kamar atau 2 minggu jika disimpan dalam lemari pendingin
Mie basahTampilan: mengkilap seperti dilumuri minyak
Tekstur: sangat kenyal, tidak mudah putus, tidak lengket
Aroma: sedikit menyengat
Umur simpan: dapat tahan hingga 2 hari jika disimpan pada suhu kamar atau hingga lebih dari 15 hari jika disimpan dalam lemari pendingin
Sumber: Dinas Ketahanan Pangan Kota Semarang, 2018

Sementara itu, makanan yang mengandung boraks memiliki tekstur lebih kenyal dan lembut serta tahan lebih lama (tidak mengalami kerusakan hingga 3 hari pada suhu jika disimpan pada suhu kamar).

Editor: Rifqah Indri Amalia, S.Gz, M.Sc

Referensi:

1 Mann J, Truswell AS (eds.). Essentials of human nutrition. 4th ed. Oxford University Press: Oxford, 2012.

2 El-Samragy Y (ed.). Food Additive. 2nd ed. Intechopen: London, 2016 doi:10.5772/1521.

3 Thompson JL, Manore MM, Vaughan LA. The science of nutrition. 4th ed. Pearson: New York, 2017.

4 Dinas Ketahanan Pangan Kota Semarang. Waspadai 4 Bahan Berbahaya dalam Pangan Berikut Ini! 2018.https://ketahananpangan.semarangkota.go.id/v3/portal/page/artikel/Waspadai-4-Bahan-Berbahaya-dalam-Pangan-Berikut-Ini (accessed 25 Jan2022).5 Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. Bahan Berbahaya yang Dilarang untuk Pangan. 2006.https://www.pom.go.id/new/view/more/berita/139/BAHAN-BERBAHAYA-YANG-DILARANG-UNTUK-PANGAN (accessed 25 Jan2022)