
Deteksi kandungan bahan pengawet buatan pada makanan kemasan dapat dilakukan dengan cara yang cukup sederhana yaitu dengan membaca bagian komposisi (bahan yang digunakan) pada kemasan makanan.
Bahan-bahan yang menandakan adanya kandungan pengawet buatan pada makanan adalah alfa-tokoferol (vitamin E), asam askorbat (vitamin C), asam fumarat, asam laktat, asam propionat, asam sorbat/potasium sorbat, butylated hydroxyanisole (BHA), butylated hydroxytoluene (BHT), kalsium prprionat/sodium proprionat, ethylenediamine tetraacetic acid (EDTA), propil galat, sodium benzoat/asam benzoat, sodium klorida (garam), sodium nitrat/sodium nitrit, sulfit (sodium bisulfit, sulfur dioksida).1,2,3
Di Indonesia, bahan pengawet yang seharusnya tidak dimasukkan ke dalam makanan juga marak diberitakan penggunaannya. Bahan pengawet berbahaya yang umum diberitakan adalah formalin dan boraks.
Penggunaan formalin sebagai pengawet makanan memang sangat berbahaya karena di dalam tubuh, formalin sangat toksik (beracun) dan bersifat karsinogenik.4 Formalin sebenarnya dimanfaatkan sebagai pembersih (lantai, pakaian, gudang, kapal), pembunuh serangga, pembuatan gelas, bahan peledak, pengeras lapisan gelatin dan kertas dalam fotografi, bahan pengawet mayat, bahan pembuatan parfum, pengawet produk kosmetik, dan perekat kayu lapis.5
Sementara itu, asupan makanan yang mengandung boraks dapat menyebabkan gangguan lambung, usus, hati, hingga gagal ginjal akut.4 Boraks sebenarnya dimanfaatkan untuk pembuatan gelas dan enamel, mematri logam, campuran pembersih, pembasmi kecoa, dan anti jamur kayu.5
Menghindari konsumsi formalin dan boraks dari makanan yang tidak kita harapkan tentu perlu dilakukan. Lakukan deteksi formalin dan boraks dalam makanan dengan memperhatikan karakteristik makanan. Berikut adalah ciri makanan yang mengandung formalin.
Tabel karakteristik makanan yang mengandung formalin
| Bahan makanan | Karakteristik jika mengandung formalin |
| Ikan | Warna daging: putih bersih Warna insang: tidak merah segar, melainkan merah tua Tekstur: daging kenyal Aroma: tidak ada aroma amis khas ikan, terdapat bau menyengat khas formalin Umur simpan: dapat tahan beberapa hari jika disimpan pada suhu kamar (±25°C) |
| Ayam potong | Warna: putih bersih Umur simpan: dapat tahan beberapa hari jika disimpan pada suhu kamar |
| Tahu | Bentuk: sangat bagus dan rapi Tekstur: kenyal, halus, tidak mudah hancur Aroma: aroma khas kedelai kurang tercium, terdapat bau menyengat Umur simpan: dapat tahan hingga 3 hari jika disimpan pada suhu kamar atau 2 minggu jika disimpan dalam lemari pendingin |
| Mie basah | Tampilan: mengkilap seperti dilumuri minyak Tekstur: sangat kenyal, tidak mudah putus, tidak lengket Aroma: sedikit menyengat Umur simpan: dapat tahan hingga 2 hari jika disimpan pada suhu kamar atau hingga lebih dari 15 hari jika disimpan dalam lemari pendingin |
Sementara itu, makanan yang mengandung boraks memiliki tekstur lebih kenyal dan lembut serta tahan lebih lama (tidak mengalami kerusakan hingga 3 hari pada suhu jika disimpan pada suhu kamar).
Editor: Rifqah Indri Amalia, S.Gz, M.Sc

Referensi:
1 Mann J, Truswell AS (eds.). Essentials of human nutrition. 4th ed. Oxford University Press: Oxford, 2012.
2 El-Samragy Y (ed.). Food Additive. 2nd ed. Intechopen: London, 2016 doi:10.5772/1521.
3 Thompson JL, Manore MM, Vaughan LA. The science of nutrition. 4th ed. Pearson: New York, 2017.
4 Dinas Ketahanan Pangan Kota Semarang. Waspadai 4 Bahan Berbahaya dalam Pangan Berikut Ini! 2018.https://ketahananpangan.semarangkota.go.id/v3/portal/page/artikel/Waspadai-4-Bahan-Berbahaya-dalam-Pangan-Berikut-Ini (accessed 25 Jan2022).5 Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. Bahan Berbahaya yang Dilarang untuk Pangan. 2006.https://www.pom.go.id/new/view/more/berita/139/BAHAN-BERBAHAYA-YANG-DILARANG-UNTUK-PANGAN (accessed 25 Jan2022)
