Ini Efek dan Manfaat Kafein Untuk Tubuh Kita!

Banyak dari kita yang merasa wajib untuk minum kopi di pagi hari. Tren mengonsumsi kopi sebagai booster harian ini sudah menjadi tren di kalangan anak muda. Hal ini juga ditandai dengan menjamurnya kafe kekinian saat ini. Namun apakah mengonsumsi kopi memberi manfaat Kesehatan bagi peminumnya? Mari kita simak pada artikel berikut.

Zat utama dalam kopi yang berperan dalam menimbulkan rasa segar adalah kafein.

Kafein yang secara kimiawi disebut juga metthylxanthine (1,3,7-trimethylxanthine) merupakan salah satu zat psikoaktif atau zat yang dapat mempengaruhi cara kerja otak. Karena keberadaannya yang banyak terdapat pada konsumsi sehari-hari, kafein merupakan zat psikoatif yang paling banyak dikonsumsi. Di alam, kafein banyak ditemukan pada tumbuhan seperti pada biji kopi, daun teh, biji kakao, dan guarana berries (biasa digunakan sebagai bahan pembuatan suplemen). Kafein juga banyak dijadikan sebagai bahan tambahan pada konsumsi lainnya seperti soda dan minuman berenergi.(1)

Bagaimana proses penyerapan kafein pada tubuh?

Penyerapan kafein pada tubuh berlangsung sekitar 45 menit setelah konsumsi dan mencapai kadar puncaknya (peak level) setelah 15 menit sampai 2 jam. Konsumsi kafein menyebabkan efek “bangun” dikarenakan metthylxanthine pada kafein yang menghalangi kerja adenosin, yaitu hormon yang jika kadarnya meningkat maka dapat menyebabkan rasa kantuk.

Beberapa kondisi dapat menghambat penyerapan kafein pada tubuh. Diantaranya adalah konsumsi serat. Karena itu, konsumsi  kopi saat kondisi perut kosong memiliki efek yang lebih cepat. Obat-obatan seperti pil kb dan merokok juga dapat menjadi penghambat penyerapan kafein. (1)

Konsumsi kafein yang menjadi kebiasaan dapat mengakibatkan ketergantungan atau kebal terhadap kafein. Mereka yang sudah terbiasa mengonsumsi kopi, biasanya akan merasa tidak mendapatkan efek yang sama kuatnya denga mereka yang lebih jarang mengonsumsi. Sedangkan pada kasus lainnya, mereka yang mengalami ketergantungan dengan kafein umumnya akan mengalami gejala-gejala seperti pusing atau letih apabila tidak mengonsumsi kafein.

Bagaimana Efek Konsumsi Kafein bagi Tubuh?

Seperti penjelasan sebelumnya, mengonsumsi kafein dapat memberikan pengaruh pada kerja saraf. Efek “bangun” yang diberikan dari mengonsumsi kafein dapat membuat seseorang  lebih fokus. Namun, apabila konsumsi ini berlangsung secara terus-menerus, kerja hormon lainnya yang berkaitan dengan tidur akan ikut terganggu. Hormon penyebab kantuk seperti dopamine, norephinerphine, serotonin, dan Gamma-Aminobutyric Acid (GABA) dapat mengalami penurunan yang menyebabkan kesulitan tidur. Untuk itu sangat disarankan bagi penderita kesulitan tidur untuk mengurangi konsumsi kafein dalam dietnya. Kafein juga bersifat diuretik yang menyebabkan stimulasi produksi urin. Apabila konsumsinya berlebihan (>400 mg per hari), maka kemungkinan dapat menyebabkan dehidrasi.(1)

Konsumsi kafein juga perlu diperhatikan untuk individu dengan kondisi khusus seperti penderita kecemasan dan ibu hamil. Konsumsi kafein yang berlebihan dapat meningkatkan detak jantung yang sama dengan gejala anxiety attack.  Karena itu, penderita kecemasan yang sensitif dianjurkan untuk tidak mengonsumsi kafein secara berlebih karena dapat memicu anxiety attack. Konsumsi kafein pada ibu hamil berkaitan dengan aliran darah ke janin. Aliran kafein pada darah ke janin menyebabkan adanya penurunan aliran darah dan aliran oksigen ke janin. Kurangnya aliran darah dan oksigen ke janin dapat meningkat risiko keguguran dan berat bayi lahir rendah.(1)

Dalam kasus lainnya kafein juga dapat menjadi toksik pada tubuh. Hal ini biasanya terjadi akibat konsumsi kafein yang berlebihan. Kondisi toksisitas kafein biasanya terjadi akibat konsumsi kafein dosis tinggi yang bersumber dari suplemen yang biasa dikonsumsi oleh atlete atau pada penderita gangguan psikologis.

Manfaat Kesehatan konsumsi kafein

Konsumsi kafein juga diketahui memiliki beberapa manfaat apabila dikonsumi dalam porsi yang wajar.

Mood dan Perilaku.

Konsumsi kafein diketahui dapat meningkatkan reseptor dopaminergic yang memicu dihasilkannya beberapa neurotransmitter seperti norphinermine dan dophamine. Dihasilkannya neurotransmitter ini menimbulkan  adanya stimulasi pada psikomotor sehingga menghasilkan perbaikan mood  dan atensi yang kemudian dapat berdampak dengan produktfitas mereka yang mengonsumsinya. Adapun banyaknya konsumsi kafein untuk mencapai tahap tersebut dibutuhkan setidaknya sekitar 75 mg kafein.(2,3)

Performa Olahraga

Konsumsi kafein bukanlah hal asing di dunia olahraga. Sebagaimana dengan efek konsumsi kafein pada perilaku dan mood, konsumsi kafein dapa meningkatkan endurance dan kapasitas dalam berolahraga. Efek ini dapat dihasilkan baik dengan konsumsi langsung oral caffeine ataupun dengan konsumsi sumber diet yang mengandung kafein. Adapun peningkatan performa yang dimaksud diantaranya adalah tidak mudah kelelahan maupun dengan peningkatan pemakaian oksigen dalam tubuh.(2,4,5)

Kafein Sebagai Anti-Inflamasi

Fungsi ini terkait dengan adanya kandungan antioksidan yang tinggi pada kafein. Studi terdahulu menunjukkan bahwa kafein dan bertindak sebagai scavenger atau pemakan radikal hydroxyl yang terjadi akibat reksi fenton (salah satu reaksi pembentukan radikal pada tubuh).(6) Selain itu, dalam penelitian lainnya kafein berpotensial dapat menghasilan anti-inflamantory sitokin diantaranya interleukin 10 (IL-10). Proses penghambatan kafein terhadap sitokin juga dikarenakan dengan peran kafein dalam memediasi hormon penghambat sitokin (tumor necrosis factor alpha (TNF-α), interleukin 2 (IL-2) and interferon-gamma (IFN-γ)). Proses ini merupakan salah satu peran penting dalam proses inisiasi dan perkembangan autoimun.(7)

Pencegahan Penyakit Neurogeneratif

Sebagaimana adanya hubungan konsumsi kafein dengan kerja otak. Konsumsi kafein juga diketahi dapat mencegah penyakit neurogeneratif seperti Parkinson dan Alzheimer. Penelitian yang telah dilakukan di beberapa negara Amerika Serikat dan Eropa menunjukkan semakin banyak konsumsi kafein dalam sehari semakin kecil risiko seseorang mengalami Parkinson.(8) Kafein juga diketahui dapat mencegah penyakit Alzheimer. Sampai saat ini obat untuk penyembuhan Alzheimer masih belum ditemukan namun untuk pencegahannya dapat dilakukan dengan meningkatkan konsumsi polyphenol dan kafein. Adapun mekanisme yang terjadi diantaranya adalah efek anti-inflamasi pada reseptor A1 dan A2 serta pengurangan deposit peptida beta-amiloid beracun di otak.(9) Penelitian lainya yang dilakukan dengan melakukan autopsi, pasien dengan konsumsi kafein lebih tinggi (>277,5 mg/hari–semua sumber kafein) memiiliki risiko mengalami lesi neurophatology yang lebih rendah dibandingkan mereka yang mengonsumsi kafein lebih rendah.(10)

Pada intinya, kafein memiliki efek “bangun” pada tubuh yang dapat membuat seseorang  lebih fokus. Kafein juga memiliki dampak bagi mood, performa olahraga, serta mengandung antioksidan yang dapat memberi manfaat bagi tubuh asal dikonsumsi dalam jumlah sewajarnya.

Editor: Wahyu Kurnia Yusrin Putra, SKM, MKM

Referensi

  1. van Dam RM, Hu FB, Willett WC. Coffee, Caffeine, and Health. New England Journal of Medicine. 2020 Jul 23;383(4):369–78.
  2. Gliottoni RC, Meyers JR, ArngríAmsson SÁ, Broglio SP, Motl RW. Effect of Caffeine on Quadriceps Muscle Pain during Acute Cycling Exercise in Low versus High Caffeine Consumers. Int J Sport Nutr Exerc Metab [Internet]. 2009 Apr 1 [cited 2023 Jul 23];19(2):150–61. Available from: https://journals.humankinetics.com/view/journals/ijsnem/19/2/article-p150.xml
  3. Depaula J, Farah A. Caffeine consumption through coffee: Content in the beverage, metabolism, health benefits and risks. Vol. 5, Beverages. MDPI AG; 2019.
  4. Hogervorst E, Bandelow S, Schmitt J, Jentjens R, Oliveira M, Allgrove J, et al. Caffeine improves physical and cognitive performance during exhaustive exercise. Med Sci Sports Exerc [Internet]. 2008 [cited 2023 Jul 23];40(10):1841–51. Available from: https://journals.lww.com/acsm-msse/Fulltext/2008/10000/Caffeine_Improves_Physical_and_Cognitive.18.aspx
  5. McLellan TM, Caldwell JA, Lieberman HR. A review of caffeine’s effects on cognitive, physical and occupational performance. Neurosci Biobehav Rev. 2016 Dec 1;71:294–312.
  6. Liang N, Kitts DD. Antioxidant Property of Coffee Components: Assessment of Methods that Define Mechanisms of Action. Molecules 2014, Vol 19, Pages 19180-19208 [Internet]. 2014 Nov 19 [cited 2023 Jul 23];19(11):19180–208. Available from: https://www.mdpi.com/1420-3049/19/11/19180/htm
  7. Ritter M, Hohenberger K, Alter P, Herzum M, Tebbe J, Maisch M. Caffeine inhibits cytokine expression in lymphocytes. Cytokine. 2005 May 21;30(4):177–81.
  8. Costa J, Lunet N, Santos C, Santos J, Vaz-Carneiro A. Caffeine exposure and the risk of Parkinson’s disease: a systematic review and meta-analysis of observational studies. J Alzheimers Dis [Internet]. 2010 [cited 2023 Jul 23];20 Suppl 1(SUPPL.1). Available from: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/20182023/
  9. Arendash GW, Mori T, Cao C, Mamcarz M, Runfeldt M, Dickson A, et al. Caffeine reverses cognitive impairment and decreases brain amyloid-beta levels in aged Alzheimer’s disease mice. J Alzheimers Dis [Internet]. 2009 [cited 2023 Jul 23];17(3):661–80. Available from: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/19581722/
  10. Gelber RP, Petrovitch H, Masaki KH, Ross GW, White LR. Coffee intake in midlife and risk of dementia and its neuropathologic correlates. J Alzheimers Dis [Internet]. 2011 [cited 2023 Jul 23];23(4):607–15. Available from: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/21157028/