Zat besi atau Fe adalah salah mineral yang sangat dibutuhkan selama kehamilan. Hal ini karena kehamilan akan memicu membentuk lebih banyak hemoglobin, yaitu protein dalam sel darah merah yang bertugas membawa oksigen dari paru-paru keseluruh tubuh, untuk mendukung pertumbuhan janin. Produksi hemoglobin yang meningkat otomatis meningkatkan juga kebutuhan komponen pembentuknya seperti zat besi, vitamin B12, dan asam folat. Selain itu, zat besi juga bagian dari mioglobin (protein yang membawa dan menyimpan oksigen secara khusus di jaringan otot, kolagen, dan enzim) dan berperan penting untuk perkembangan otak, sel, dan hormon.

Perempuan yang sebelum hamil mengalami kekurangan kadar zat besi dalam tubuh atau juga disebut defisiensi zat besi akan berlanjut mengalami anemia defisiensi zat besi yang lebih parah saat kehamilan, dibandingkan dengan individu yang cukup zat besi. Kurangnya zat besi dapat menghambat pembentukan hemoglobin yang memicu terjadinya anemia atau kekurangan kadar hemoglobin sehingga pendistribusian oksigen keseluruh tubuh terhambat. Yuk kita bahas lebih lengkap fungsi utama zat besi selama kehamilan, risiko jika mengalami defisiensi dan cara pencegahannya di artikel ini.
Jenis dan Penyerapan Zat Besi Ke Dalam Tubuh
Zat besi dibagi menjadi dua jenis yaitu zat besi heme dan non-heme. Zat besi heme adalah yang berasal dari makanan tinggi protein hewani seperti daging, unggas, ikan, seafood, hati, dan lain-lain, sedangkan zat besi non-heme adalah zat besi yang berasal dari protein nabati hingga sayuran hijau, yaitu kacang-kacangan, biji-bijian, buah, sayuran. Proporsi penyerapan zat besi yang diserap dari heme sebesar 10-15%, sedangkan <2% unsur zat besi non-heme diserap kedalam tubuh. Efektifitas penyerapan zat besi dipengaruhi oleh asam lambung serta asupan vitamin C (khusus non-heme).
Ada dua proses tubuh mendapatkan zat besi. Kedua proses ini diatur oleh hormon hepsidin sebagai regulator kesimbangan kadar zat besi dalam tubuh. Pertama, penyerapan yang berasal dari asupan makan yang terjadi di usus dua belas jari atau duodenum. Kedua, zat besi dapat diperoleh dari penghancuran sel darah merah oleh makrofag (salah satu jenis sel darah putih) melalui proses daur ulang. Hasil dari proses penyerapan zat besi dapat disimpan dalam enterosit dalam bentuk ferritin atau dibawa oleh protein transferin melalui sirkulasi darah menuju jaringan tubuh.
Kebutuhan Zat Besi Selama Kehamilan
Kebutuhan zat besi pada ibu hamil sekitar 800 mg yang terbagi untuk 300 mg untuk kebutuhan janin dan 500 mg untuk menambah massa hemoglobin selama kehamilan. Asupan makan yang dikonsumsi oleh ibu hamil setiap 100 kalori menghasilkan sekitar 8-10 mg zat besi. Jika dari asupan makan berisiko kekurangan, kadar tersebut dapat terpenuhi dari konsumsi 60 tablet suplementasi zat besi selama kehamilan.
Apa yang Terjadi Jika Ibu Hamil Mengalami Anemia Defisiensi Zat Besi?
Kekurangan asupan zat besi dalam jangka waktu panjang mengakibatkan kadar zat besi dalam tubuh berkurang dan akhirnya berakibat anemia karena defisiensi zat besi . Anemia defisiensi zat besi ditandai dengan kelelahan, kulit pucat atau kekuningan, lelah, letih, pusing, sakit kepala, detak jantung tidak teratur, nyeri dada, sesak nafas, tangan dan kaki terasa dingin. Anemia yang tidak teratasi selama kehamilan dapat berpengaruh pada kesehatan dan keselamatan baik ibu maupun janin seperti:
- Perdarahan Pasca persalinan
Perdarahan pasca melahirkan merupakan perdarahan yang terjadi beberapa minggu setalah melahirkan. Kondisi ini dapat membahayakan keselamatan ibu hingga menyebabkan kematian. - Depresi pasca persalinan (Depresi Pospartum)
Depresi pospartum merupakan depresi yang cukup banyak dialami oleh ibu pasca melahirkan. Namun banyak ibu yang baru melahirkan tidak menyadari bahwa dirinya sedang mengalami depresi. Anemia selama kehamilan dapat meningkatkan risiko terjadinya depresi pospartum. - Kelahiran prematur
Prematur merupakan kelahiran yang terjadi sebelum tanggal perkiraan persalinan atau sebelum minggu ke 37. Pada bayi lahir prematur sangat berisiko terjadinya gangguan tumbuh kembang - Melahirkan bayi dengan berat badan rendah (BBLR)
Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) merupakan kondisi bayi memiliki berat badan kurang dari 2.500gram pada saat lahir. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan terdapat 6.2% bayi terlahir dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di Indonesia. Biasanya BBLR terjadi pada bayi lahir prematur. atau lahir kurang dari 37 minggu. Selain itu bayi dengan berat badan lahir rendah lebih berisiko mengalami gangguan kesehatan dibandingkan dengan bayi yang lahir dengan berat badan normal. - Bayi lahir mengalami anemia
Ibu dengan anemia selama kehamilan dapat menyebabkan bayi lahir dengan anemia yang dapat mempengaruhi nafsu makan bayi. Akibatnya asupan gizi bayi terganggu dan jika tidak segera ditangani dapat berpengaruh pada tumbuh kembang bayi. - Meningkatkan risiko kematian bayi sebelum hingga setelah lahir
Cara Mencegah Defisiensi Zat Besi selama Kehamilan
Defisiensi zat besi dapat dicegah dengan menerapkan beberapa cara berikut :
- Konsumsi makanan sumber zat besi
Makanan kaya akan zat besi jenis heme yang aman dikonsumsi oleh ibu hamil yaitu daging tanpa lemak (lean beef), ayam, ikan salmon, ikan lele, udang, ikan tuna. Namun, jika kamu tidak mengonsumsi protein hewani atau selalu merasa mual kalau mengonsumsinya maka kamu dapat memilih zat besi jenis non heme seperti kacang-kacangan, biji-bijian, bayam, kubis (kale), dan brokoli. - Konsumsi kaya akan vitamin C
Vitamin C dapat membantu penyerapan zat besi non heme dengan optimal yang ditemukan pada strawberry, jeruk, kiwi, dan jambu merah. - Suplementasi zat besi
Selain dari makanan, zat besi dapat diperoleh dari suplemen. Penelitian menunjukkan bahwa pemberian suplemen zat besi pada ibu hamil menurunkan risiko terjadinya anemia dan defisiensi besi, bayi BBLR serta kelahiran prematur. Konsultasikanlah ke tenaga kesehatan seperti bidan dan dokter obgyn untuk mendapatkan suplementasi zat besi.
Zat besi memiliki fungsi yang krusial selama kehamilan, karena jika tidak terpentuhi kebutuhannya akan berakibat anemia pada ibu hamil yang dapat membahayakan kondisi kesehatan ibu secara keseluruhan serta perkembangan janin. Asupan selama kehamilan merupakan bentuk investasi terhadap tubuh agar tetap sehat dan optimalnya tumbuh kembang janin selama kehamilan. Selalu konsultasikan ke dokter tentang kondisi kesehatan jika merasa kurang asupan sumber zat besi dan mengalami gejala anemia. Anda juga bisa mencoba mengkaji kondisi gizi dan kesehatanmu selama kehamilan lewat Dietela Quiz https://nama.dietela.id/, jangan lupa tunjukan ke Ahli gizi Dietela untuk membantu dalam mengatur asupanmu!
Editor: Mayesti Akhriani, S.Gz, MSc
Referensi
- Yiannikourides A, Latunde-Dada GO. A Short Review of Iron Metabolism and Pathophysiology of Iron Disorders. Medicines (Basel). 2019;6(3):85. Published 2019 Aug 5. doi:10.3390/medicines6030085
- Garzon S, Cacciato PM, Certelli C, Salvaggio C, Magliarditi M, Rizzo G. Iron Deficiency Anemia in Pregnancy: Novel Approaches for an Old Problem. Oman Med J. 2020;35(5):e166. Published 2020 Sep 1. doi:10.5001/omj.2020.108
- Kurniati I. Anemia Defisiensi Zat Besi (Fe). JK Unila. 2020; 4(1): 18-33. DOI: https://doi.org/10.23960/jk%20unila.v4i1.2763
- Pentingnya Konsumsi Tablet Fe Pada Ibu Hamil. https://promkes.kemkes.go.id/pentingnya-konsumsi-tablet-fe-bagi-ibu-hamil (19 Januari 2023)
- Abbaspour, N. (2014, February). Review on iron and its importance for human health. Journal of Research in Medical Sciences, 19(2), 164-174
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3999603/ - Anoyke, et. al. (2018) Prevalence of Pospartum Depression and Interventions Utilized dor Its Managemen. Annals of General Psychiatry, 17.pp.18.
- Ghaedrahmati, et al. (2017). Pospartum Depression Risk Factors: A Narrative Review. Journal of Education and Health Promotion, 6 pp. 60
- Zaidi, et. al (2017). Pospartum Depression in Women. A Risk Pactor Analysis. Journal of Clinical and Diagnostic Research, 11(8), QC13-1C16.
- World Health Oragnization. Mental Health and Substance Use. American Psychological Association. Pospartum Depression (19 Januari 2023)
- Inpresari I. & Pertiwi, W. (2020). Determinan Kejadian Berat Bayi Lahir Rendah. Jurnal Kesehatan Reproduksi. doi:10.22146/jkr.50967
- American Pregnancy Association. Premature Birth Complications.(19 Januari 2023)
- The Nutrition Source-Iron. https://www.hsph.harvard.edu/nutritionsource/iron/ (23 Januari 2023)
- National Institutes of Health Office of Dietary Supplements: Iron Fact Sheet for Health Professionals https://ods.od.nih.gov/factsheets/Iron-HealthProfessional/. Accessed 9/2/2019.
- Beef, top sirloin, steak, separable lean and fat, trimmed to 1/8″ fat, all grades, cooked, broiled. (2019). fdc.nal.usda.gov/fdc-app.html#/food-details/168727/nutrients. (23 Januari 2023)
- Fish, salmon, Atlantic, wild, cooked, dry heat. (2019).
fdc.nal.usda.gov/fdc-app.html#/food-details/171998/nutrients. (23 Januari 2023) - Kataria Y, et al. (2018). Iron status and gestational diabetes – A meta-analysis.
ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5986501/ - American Pregnancy Association. Anemia During Pregnancy. (19 Januari 2023)
- Mayo Clinic (2022). Diseases & Conditions Pospartum Depretion. (23 Januari 2023)
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2021). Kemenkes Perkuat Upaya Ibu dan Bayi.
- Rahmati, S., et al. (2020). The Relationship between Maternal Anemia during Pregnancy with Preterm Birth : A Systematic Review and Meta-analysis. The Journal of Maternal-Fetal & Neonatal Medicine. 22(15),pp.2679-2689
