Cari Tahu Kebenaran dari 7 Mitos dan Fakta Tentang Gizi Ini!

Untuk memperingati Hari Gizi Sedunia besok (28 Mei), kita bahas beberapa mitos dan fakta gizi yang sering berdar yuk. Agar kamu tidak menjadi salah satu korban mitos tentang gizi, yuk baca lebih lanjut!

Sumber gambar: Freepik

1. Agar sehat, kita harus minum suplemen vitamin setiap hari

Mitos

Selama ini kita percaya bahwa kita harus minum suplemen vitamin setiap hari agar sehat. Padahal, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, suplemen artinya “(sesuatu) yang ditambahkan untuk melengkapi; tambahan”. Konsumsi suplemen vitamin tidak wajib, karena fungsinya hanya sebagai tambahan saja. Pola makan  bergizi seimbang sebenarnya dapat memenuhi kebutuhan gizi kita setiap hari. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa, beberapa orang mungkin memang memerlukan suplemen vitamin. Misalnya, seseorang yang baru sembuh dari sakit memerlukan tambahan asupan vitamin C dari suplemen atau seseorang yang tinggal di daerah dengan minim paparan sinar matahari mungkin memerlukan suplemen vitamin D. Kita perlu berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi untuk mengetahui apakah kita perlu konsumsi suplemen vitamin atau tidak. Beberapa suplemen vitamin dapat mengandung dosis vitamin yang tinggi dan bisa berdampak buruk bagi kesehatan jika dikonsumsi terus menerus. Baca dampak kelebihan konsumsi vitamin C di Vitamin C 1000 mg Sehari, Apakah Perlu?

2. Kita harus mencukupi kebutuhan cairan sehari dengan minum minimal 8 gelas air per hari

Kita perlu mencukupi kebutuhan cairan sehari adalah fakta, namun berapa banyaknya berbeda-beda tergantung berbagai faktor.

Air diperlukan untuk berbagai proses dalam tubuh kita (baca selengkapnya di 5 Fakta Air Yang Penting Kamu Ketahui). Konsumsi air yang cukup juga membuat kita terhindar dari dehidrasi. Kebutuhan air setiap orang berbeda-beda tergantung usia, ukuran tubuh, status kesehatan, tingkat aktivitas fisik, dan paparan terhadap kondisi lingkungan. Contohnya, seorang atlet laki-laki yang berlatih di lingkungan yang panas mungkin perlu cairan hingga 10 liter per hari untuk mempertahankan keseimbangan cairan tubuh, sementara itu, seorang perempuan bertubuh kecil yang bekerja pada ruangan ber-AC memerlukan 3 liter cairan sehari. Minum 8 gelas air sehari seringkali direkomendasikan. Konsumsi air sejumlah itu akan menyediakan cairan yang cukup bagi sebagian besar orang untuk mempertahankan keseimbangan cairan tubuh.1 Tapi perlu diperhatikan kembali, kebutuhan cairanmu mungkin lebih rendah atau lebih tinggi. Konsultasikan dengan ahli gizi untuk tahu berapa kebutuhan cairanmu per hari.

3. Makanan berlabel vegan dan gluten-free pasti lebih sehat

Belum tentu

Makanan berlabel vegan tidak mengandung bahan pangan hewani dan olahannya sama sekali, seperti daging sapi, daging ayam, ikan, seafood, susu, telur, keju, yoghurt, atau mentega. Sementara itu, makanan berlabel gluten-free tidak mengandung gluten yang merupakan protein yang dapat ditemukan pada gandum, barley, maupun beberapa biji padi-padian (grain) lainnya. Bahan makanan berlabel vegan dan gluten-free belum tentu lebih sehat dari makanan lainnya. Makanan tersebut bisa saja tetap mengandung gula, garam, dan lemak dalam kadar yang tinggi. Makanan berlabel vegan bisa saja kekurangan kandungan beberapa zat gizi (misalnya zat besi, asam amino penting (esensial), vitamin B12). Sejatinya, makanan vegan diperuntukkan bagi para vegan (tidak mengonsumsi bahan makanan hewani dan olahannya) dan makanan gluten-free adalah untuk orang-orang yang bisa mengalami ganguan kesehatan jika mengonsumsi gluten (misalnya celiac disease). Makanan tanpa label vegan atau gluten-free bisa tetap sehat karena yang paling penting adalah pengaturan porsi dan komposisi makan. Pastikan terapkan pola makan bergizi seimbang ya! Agar tidak salah kaprah mengenai produk makanan vegan dan gluten-free baca:

Mari Kenalan dengan Diet Vegetarian

Apakah Produk Makanan Vegan Lebih Sehat dan Membantu Penurunan BB?

Diet Gluten-free untuk Menurunkan Berat Badan, Tepatkah?

4. Untuk menurunkan berat badan, kita harus melewatkan waktu sarapan atau makan malam

Mitos

Penurunan berat badan dapat dicapai dengan melakukan defisit kalori, yaitu asupan kalori lebih sedikit dari pengeluaran kalori. Hal tersebut paling baik dilakukan dengan mengombinasikan pembatasan asupan kalori dengan peningkatan aktivitas fisik. Mengapa? Cari tahu di Menurunkan Berat Badan Tanpa Olahraga, Apakah Efektif?. Salah satu cara populer namun sebenarnya salah yang dilakukan untuk mengurangi atau membatasi asupan kalori adalah dengan melewatkap (skip) waktu makan. Sarapan atau makan malam adalah waktu makan yang sering dilewatkan. Padahal, jika kita membuat diri kita kelaparan karena melewatkan salah satu waktu makan, kita bisa menjadi kalap pada waktu makan berikutnya atau kita akan menjadi lebih banyak ngemil. Kedua hal tersebut justru bisa membuat asupan kalori kita lebih besar dibandingkan jika kita makan utama 3 kali sehari. Selain itu, melewatkan waktu makan juga dapat berdampak buruk bagi kesehatan, baca selengkapnya di:

Melewatkan Jam Makan (Skip Makan) Bisa Mengancam Kesehatan

Makan Teratur Untuk Ritme Tubuh Yang Teratur

5. Nasi putih membuat gemuk dan diabetes

Mitos

Nasi putih sering dianggap sebagai penyebab gemuk dan diabetes. Tidak sedikit, orang yang percaya bahwa nasi putih harus diganti sumber karbohidrat lainnya saat diet untuk menurunkan berat badan. Padahal, kandungan utama nasi putih sama seperti kentang, oatmeal,  atau nasi merah, yaitu karbohidrat. Hanya saja, jika dibandingkan dengan nasi merah atau nasi berwarna lainnya, nasi putih mengandung lebih sedikit serat (cari tahu nasi/beras warna apa yang terbaik di Beras Putih, Beras Cokelat, Beras Merah, dan Beras Hitam, Mana yang Terbaik?). Serat dapat membantu kita untuk kenyang lebih lama. Namun, dengan porsi yang tepat, kita tetap bisa menjaga berat badan ideal meskipun mengonsumsi nasi putih sehari-hari.

Berkaitan dengan diabetes, nasi putih memiliki memang indeks glikemik tinggi dan dapat berkontribusi dalam munculnya dan  memperparah diabetes. Namun perlu diketahui bahwa faktor risiko penyebab diabetes itu beragam. Konsumsi nasi putih tidak secara langsung menyebabkan diabetes apalagi jika kita menerapkan pola makan bergizi seimbang. Tapi tetap perlu diingat bahwa risiko diabetes bisa jadi meningkat jika kita dalam jangka panjang mengonsumsi nasi putih dalam porsi berlebihan dan tanpa menerapkan prinsip Gizi Seimbang. Lalu, apakah pasien diabetes tidak boleh konsumsi nasi putih? Cari tahu jawabannya di Apa Benar Nasi Putih Sebabkan Diabetes dan Tidak Boleh Dikonsumsi oleh Orang dengan Diabetes?

6. Minum air es bikin gemuk

Mitos

Air putih dingin memiliki kalori yang sama dengan air putih bersuhu normal, yaitu 0 kkal. Hal yang dapat membuat seseorang kelebihan berat badan adalah keseimbangan kalori positif terus menerus. Artinya, asupan kalori melebihi pengeluaran kalori. Konsumsi air putih dingin, tidak menyebabkan seseorang menjadi gemuk. Namun, kebiasaan konsumsi air dingin berpemanis (misalnya teh manis kemasan, kopi kemasan, jus kemasan, minuman rasa buah kemasan) bisa membuat asupan kalori harian berlebih, sehingga menyebabkan peningkatan berat badan.

7. Minum bersoda tidak baik untuk kesehatan

Fakta

Minuman bersoda umumnya mengandung banyak gula tambahan yang tidak baik untuk kesehatan. Asupan gula tambahan berlebih dapat meningkatkan risiko berat badan berlebih, diabetes, dan kerusakan gigi.

Informasi tentang gizi, makanan, dan kesehatan tersebar luas di luar sana. Namun sayangnya, tidak semua informasi kredibel. Berbagai pertanyaan mengenai gizi, makanan, dan kesehatan dapat kamu konsultasikan dengan Ahli Gizi Dietela. Semua ahli gizi di Dietela sudah tersertifikasi. Kamu juga dapat mencari tahu beragam informasi gizi terpercaya di kanal edukasi Dietela (Blog Website, Youtube, Instagram, dan Twitter).

Editor: Wahyu Kurnia Yusrin Putra, SKM, MKM

Dietela Quiz

Referensi:

1.        Thompson JL, Manore MM, Vaughan LA. The science of nutrition. 4th ed. New York: Pearson, 2017.