
Sahabat Dietela tentu sering mendengar atau membaca tentang polusi, radikal bebas dan antioksidan. Antioksidan sudah sering diberitakan merupakan zat yang mampu menangkal radikal bebas sehingga akan memberikan berbagai manfaat kesehatan bagi tubuh diantaranya mencegah kerusakan kulit, menjaga kesehatan pembuluh darah, mencegah penuaan dini dan sejumlah manfaat lainnya. Lalu apa sebenarnya antioksidan dan bagaimana cara kerjanya di dalam tubuh?
Pengertian antioksidan
Antioksidan adalah senyawa kimia yang mencegah atau memperbaiki kerusakan sel tubuh akibat paparan oksidan.1,2 Oksidan atau biasa dikenal dengan radikal bebas merupakan senyawa yang mengoksidasi (reaksi yang dapat menyebabkan kerusakan sel tubuh) senyawa lainnya.3 Contoh zat yang merupakan oksidan adalah oksigen, ozon, asap, maupun oksidan alami yang diproduksi oleh tubuh.1
Radikal Bebas dan Stres Oksidatif
Bagian terkecil dari semua hal di muka bumi dinamakan atom. Atom memiliki bagian bernama elektron yang jumlahnya harus ganda agar stabil. Reaksi oksidasi menyebabkan elektron hilang, sehingga jumlahnya menjadi ganjil dan atom menjadi tidak stabil. Atom yang tidak stabil tersebut akan bereaksi “mencuri” elektron dari atom lain, lalu atom lain tersebut menjadi tidak stabil dan “mencuri” elektron dari atom lainnya lagi. Proses ini terus terjadi secara berantai.2 Radikal bebas memiliki sifat sangat reaktif (mudah bereaksi dengan zat lain) dan dapat memicu reaksi berantai. Reaksi ini akan menyebabkan kerusakan pada senyawa di sekitanya.4
Kerusakan akibat reaksi berantai radikal bebas sering disebut juga sebagai kondisi Stres oksidatif. Jika tubuh terlalu sering atau terlalu lama berada dalam kondisi stres oksidatif, maka dapat terjadi sejumlah kerusakan terutama kerusakan DNA, lemak, sel, dan jaringan. Dalam jangka panjang stres oksidatif meningkatkan risiko penyakit jantung, diabetes tipe 2, kanker, dan penyakit lainnya.1
Beberapa sumber stres oksidatif adalah polusi udara, rokok tembakau, paparan radiasi ultraviolet berlebihan (seperti terpapar sinar matahari terlalu lama).5
Cara kerja antioksidan dalam tubuh
Anti artinya “melawan”, dan antioksidan bekerja melawan atau mencegah oksidasi yang ditimbulkan oleh radikal bebas.2 Anktioksidan berperan menyumbangkan elektron yang dimilikinya kepada atom yang tidak stabil. Sehingga, tidak terjadi reaksi “mencuri” elektron secara berantai yang dapat menyebabkan kerusakan sel tubuh.2
Ilustrasi berikut menggambarkan peran antioksidan untuk melawan radikal bebas dalam tubuh. Pada ilustrasi A, radikal bebas menyebabkan reaksi berantai. Apabila terjadi pada membran sel, maka keutuhan membran tersebut menjadi terganggu, sehingga sel akan mati. Hal ini yang mendasari mengapa pajanan radikal bebas sering dikaitkan dengan kerusakan kulit atau penuaan dini. Pada ilustrasi B, antioksidan menyumbangkan elektronnya kepada radikal bebas, sehingga menghentikan reaksi oksidasi berantai dan mencegah kerusakan membran sel.2

Fungsi antioksidan bagi tubuh
Kinerja antioksidan membawa beragam manfaat, terutama mencegah berbagai penyakit, yaitu:
1. Mencegah kanker
Antioksidan dapat mencegah terjadinya kanker dengan cara 2:
- Meningkatkan sistem imun dengan membantuk menghancurkan sel yang dapat menyebabkan kanker.
- Mencegah kerusakan akibat oksidan pada DNA sel dengan menghentikan reaksi berantai akibat radikal bebas.
- Menghambat pertumbuhan sel kanker dan tumor.
2. Menurunkan risiko penyakit kardiovaskular (penyakit pada jantung dan pembuluh darah)
Beberapa antioksidan (termasuk vitamin E) dapat mengurangi kerusakan pada pembuluh darah, sehingga menurunkan risiko serangan jantung atau stroke. Beberapa antioksidan (termasuk vitamin E) juga dapat mengurangi penyumbatan darah.
3. Menurunkan kejadian penyakit pada mata
Antioksidan bernama lutein yang dapat ditemukan pada jagung dan bayam berhubungan dengan kejadian kerusakan lensa mata dan hilangnya pengelihatan yang lebih rendah pada lansia.6
Bahan makanan yang mengandung antioksidan
Antioksidan bisa didapatkan dengan mudah dari asupan makanan karena sejumlah zat gizi juga berfungsi sebagai antioksidan. Zat gizi yang dapat berperan sebagai antioksidan adalah vitamin E, vitamin C, beta-karoten (vitamin A dari sumber nabati), mineral selenium, tembaga, zat besi, zink, dan mangan.2,3,7,8 Mengonsumsi bahan makanan yang mengandung zat gizi tersebut dapat menyediakan antioksidan bagi tubuh. Selain vitamin dan mineral, zat dalam bahan makanan yang berperan sebagai antioksidan adalah fitokimia.7 Bahan makanan yang kaya akan antioksidan diantaranya 1,6,9:
| Zat antioksidan | Bahan makanan sumber antioksidan |
| Senyawa belerang alium | Bawang putih, bawang bombay, daun bawang |
| Antosianin | Terong, anggur, berbagai buah beri, buah delima |
| Beta-karoten | Labu, mangga, wortel, bayam |
| Katekin | Teh |
| Flavonoid | Teh, buah sitrus (keluarga jeruk), apel, bawang bombay, buah delima |
| Indol | Brokoli, kol, kembang kol |
| Isoflavonoid | Kedelai, tahu, kacang polong, susu |
| Lignan | Biji wijen, gandum utuh |
| Lutein | Bayam, jagung |
| Likopen | Tomat, semangka |
| Mangan | HIdangan laut (seafood), daging tanpa lemak, susu, dan kacang |
| Selenium | Hidangan laut (seafood), daging tanpa lemak, gandum utuh |
| Vitamin A | Hati, ubi jalar, wortel, susu, kuning telur |
| Vitamin C | Jeruk, kiwi, mangga, brokoli, bayam, stroberi |
| Vitamin E | Minyak sayur, alpukat, kacang, biji-bijian, gandum utuh |
| Zink | HIdangan laut (seafood), daging tanpa lemak, susu, dan kacang |
Gaya hidup cukup antioksidan
Gaya hidup yang dapat menyediakan cukup antioksidan adalah sebagai berikut:
- Konsumsi berbagai makanan sumber antioksidan
Terdapat berbagai jenis Antioksidan. Agar memberikan dampak kesehatan optimal, maka berbagai antioksidan tersebut perlu dikonsumsi dan tidak hanya mengandalkan satu jenis antioksidan saja. Diet yang mengandung banyak buah, sayur, dan gandum utuh dapat menyediakan cukup antioksidan.2 Agar zat gizi yang berperan sebagai antioksidan dapat berperan menetralkan radikal bebas, maka perlu dikonsumsi dalam jumlah cukup dan kerjanya akan lebih optimal jika dikonsumsi dalam bentuk alaminya.7
Setiap bahan makanan memiliki kandungan antioksidan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, konsumsi bahan makanan yang bervariasi dan sesuai gizi seimbang untuk menyediakan berbagai antioksidan. Semakin berwarna menu makanan kita sehari-hari, maka akan semakin kaya antioksidan. - Tidak bergantung suplemen antioksidan
Mengonsumsi suplemen antioksidan tidak memengaruhi risiko kanker, bahkan asupan suplemen antioksidan dengan dosis tinggi justru meningkatkan risiko kanker.2 Mengapa demikian? Karena suplemen hanya mengandung zat gizi atau fitokimia sesuai judulnya. Misal suplemen zinc, maka hanya akan mengandung zinc dalam dosis yang sangat tinggi/megadosis. Sementara di dalam bahan makanan, selain mengandung antioksidan, juga mengandung berbagai serat, zat gizi serta fitokimia lainnya. Keragaman kandungan ini akan memberikan manfaat kesehatan. Dosis antioksidan dalam suplemen dapat berperan sebagai pro-oksidan yang memicu produksi radikal bebas.3 - Hindari sumber stres oksidatif eksternal
Asap knalpot dan asap rokok merupakan sumber stres oksidatif yang hampir setiap hari kita temui. Mengurangi pajanan asap knalpot dan asap rokok akan membantu mengoptimalkan kerja antioksidan di dalam tubuh. Hal ini karena proses metabolisme tubuh sehari-hari sebenarnya juga menghasilkan radikal bebas yang perlu dinetralisir. JIka ditambah dengan pajanan asap knalpot atau asap rokok, maka kerja antioksidan akan semakin berat. misalnya rokok, dihindari agar antioksidan yang dikonsumsi dapat meningkatkan kesehatan, bukan sekedar melawan oksidan dari rokok. - Cukup istirahat
Cukup tidur akan membantu mengurangi produksi radikal bebas internal. Sel-sel tubuh yang mendapatkan cukup istirahat akan bekerja secara lebih efisien sehingga mengurangi kemungkinan terbentuknya radikal bebas akibat “kesalahan” proses komunikasi antar sel. Cukup tidur juga akan membantu sel-sel tubuh untuk beregenerasi secara lebih baik.
Editor: Wahyu Kurnia Yusrin Putra, SKM, MKM

Referensi:
- Brown JE. Nutrition through the life cycle. 6th ed. Boston: Cengage Learning, 2017.
- Thompson JL, Manore MM, Vaughan LA. The science of nutrition. 4th ed. New York: Pearson, 2017.
- Whitney E, Rolfes SR. Understanding nutrition. 15th ed. Boston: Cengage Learning, 2019.
- DeBruyne LK, Pinna K. Nutrition for Health and Health Care. 5th ed. Boston: Cengage Learning, 2014.
- Dasgupta A, Klein K. Antioxidants in food, vitamins and supplements : prevention and treatment of disease. London: Elsevier Inc. , 2014.
- Department of Health Victoria Australia. Antioxidants, https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/healthyliving/antioxidants#disease-fighting-antioxidants (2020, accessed 19 January 2022).
- Wardlaw GM. Contemporary nutrition: a functional approach. 2nd ed. New York: McGraw-Hill Education, 2012.
- Raymond JL, Morrow K. Krause and Mahan’s food & the nutrition care process. 15th ed. London: Elsevier, 2015.
- Zarfeshany A, Asgary S, Javanmard SH. Potent health effects of pomegranate. Adv Biomed Res 2014; 3: 100.
