FAQ
Tips Memilih Makanan Manis yang Lebih Sehat

Dijawab oleh Ahli Gizi Dietela
Syahvira Kanza Herstyana Putri, S.Gz, R.D.

Makanan manis memang banyak disukai karena dapat membuat perasaan kita lebih bahagia. Maka dari itu, tidak sedikit masyarakat memilih untuk mengkonsumsi makanan manis untuk meningkatkan mood dan menghilangkan stress. Namun konsumsi makanan manis perlu kita perhatikan. Tidak jarang, saat mengkonsumsi makanan manis kita “tidak sadar” seberapa banyak yang kita perlukan, sehingga akan berefek ke nafsu makan dan perubahan berat badan. Untuk mencegah hal tersebut, baiknya kita perlu memilih makanan manis dengan cara memikirkan dengan baik makanan manis seperti apa yang sebenarnya kita butuhkan, apakah yang penting mengandung unsur manis atau memang karena hanya lapar mata dan “sedang viral”.  Kemudian, cari tahu komposisi bahan tersebut, apakah mengandung gula tambahan berlebih (>10 g dalam satu sajian) atau tidak, mengenali nama lain dari zat aditif untuk mengetahui apakah produk tersebut  mengandung pengawet atau pewarna sintetis/zat kimia berbahaya lain nya, pilih produk makanan manis yang tinggi serat agar gula darah juga tetap terkontrol (misal dari buah, puding, snackbar dll).

Alergen adalah suatu bahan yang dapat menyebabkan reaksi tidak normal pada tubuh. Bahan yang bersifat alergen pada pembuatan dessert atau makanan minuman manis adalah susu, telur, tepung, kacang. Efek yang biasa dirasakan atau sering muncul biasanya adalah gatal, sesak nafas, ruam, panas bahkan dapat menyebabkan shock. Maka dari itu kita perlu mengetahui apakah ada riwayat atau keluarga terdekat kita yang juga memiliki alergi terhadap bahan tertentu. Untuk memastikan, kita juga dapat melakukan beberapa tes dengan bantuan tenaga kesehatan profesional melalui beberapa tahapan untuk mengetahui spesifikasi kita alergi terhadap sesuatu bahan sehingga kita bisa menghindari produk yang mengandung bahan tersebut.

Gluten merupakan jenis protein yang memberikan tekstur kenyal dan elastis pada biji-bijian, seperti pada olahan sereal, pasta, roti, kue. Makanan dengan label gluten-free umumnya ditujukan untuk seseorang dengan kondisi intoleransi gluten dimana orang tersebut akan merasakan diare, mual, sakit perut, perut kembung bahkan sampai berat badan turun jika tidak sengaja/sengaja mengkonsumsi produk yang mengandung gluten. Sedangkan pada orang yang dapat mengkonsumsi (toleran) gluten, terkadang produk gluten-free dianggap lebih sehat. Padahal, saat mengkonsumsi makanan gluten-free, kandungan gula, garam, dan lemak dalam setiap sajian tetap perlu diperhatikan. Produk gluten-free yang dikonsumsi juga perlu diseimbangkan dengan serat yang cukup agar tetap sehat dan berat badan terjaga.

Pada dasarnya, kandungan energi dan mineral pada sari tebu, madu, dan brown sugar hampir sama dengan gula pasir. Sementara itu, stevia memilki rasa 500x lebih manis dibanding gula pasir, sehingga kita cukup menggunakannya sedikit untuk mendapatkan rasa manis yang pas. Maka dari itu, penggunaan stevia tetap perlu diperhatikan jumlahnya agar tidak berlebih. Menurut Food and Drug Administration (FDA), batas maksimal penggunaan harian stevia adalah 4 miligram per kilogram berat badan. Jika asupannya melebihi batasan yang ditetapkan, risiko efek samping seperti gangguan pencernaan kembung, begah, dan mual bisa dialami. 

Untuk konsumsi pemanis buatan (sintetis) berkelanjutan/berlebih juga sudah tidak dianjurkan lagi oleh WHO pada tahun 2022 karena dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular, kerusakan saraf, sakit kepala, gangguan metabolisme, perubahan mikrobiota usus, bahkan resiko kanker karena mengandung zat kimia sehingga kita perlu sadar dan mengenali nama lain zat tambahan pada pangan.

Snack kemasan manis dengan klaim no sugar/sugar free masih dapat kita katakan makanan manis. Pada peraturan BPOM No. 22 tahun 2019 yang mengatur kandungan gula pada produk makanan atau minuman, kita perlu memperhatikan apakah produk tersebut menggunakan gula pengganti (gula sintetis) dari maltitol, sukralosa, serta apakah mengandung gula alami dari monosakarida dan disakarida seperti glukosa fruktosa dan sukrosa yang sudah secara alami terkandung pada komposisi yang digunakan.

Konsumsi produk yoghurt, es krim, dan snack bar yang memiliki varian rasa dapat dijadikan alternatif saat kita ingin memakan sesuatu yang manis. Cermatilah komposisi pada pembuatan produk tersebut, misal apakah es krim-nya sebagian besar terbuat dari sirup atau susu yang diberikan varian rasa. Kemudian cek dan pahami betul anjuran takaran saji dari produk tersebut. Cermati dan perhatikan kandungan Gula, Garam, Lemak (GGL), apakah masih sesuai dengan AKG dan anjuran Kementerian Kesehatan, bandingkan satu produk dengan produk lain, mana yang mengandung lebih rendah gula dan kalori. Jika sudah sesuai semua, maka kamu dapat mengkonsumsi nya sesuai dengan anjuran takaran saji dan pastikan tetap seimbangkan asupan harianmu serta aktif bergerak.

Agar tidak mengganggu asupan makanan utama pada anak, sebaiknya pemberian  dessert, khususnya selain homemade, bisa mulai diberikan pada anak-anak ketika umur 2 tahun. Hal tersebut agar nafsu makan anak tidak terpengaruh, tidak menurunkan asupan makan utama, agar tidak terjadi obesitas dan karies gigi. Pemberian dessert pada anak sangat perlu diperhatikan, pastikan memberikan makanan yang mengandung nilai gizi yang lengkap dengan cara mengkombinasikan dessert dengan bahan makanan lain misal buah/sayur/protein, diberikan pada jam snacking dan sudah makan utama, diberikan porsinya sesuai porsi snacking, rutin menyikat gigi, dan tetap aktif bergerak.

Sweet tooth dianggap sebagai sifat yang lebih menyukai makanan manis-manis. Pada penelitian, ternyata kandungan gula akan memberikan rasa enak, reward (imbalan), atau nyaman, sehingga asupan makanan manis sering atau jangka panjang dapat memicu neuroadaptasi. Akibatnya, setiap hari akan muncul keinginan untuk mengonsumsi makanan atau minuman manis dan ingin konsumsi banyak (kompulsif). Mari coba atur konsumsi makanan manis dengan maksimal 1 potong makanan manis sehari atau bisa mengganti produk tersebut dengan makanan yang memiliki hidden sweet, misalnya buah. Studi menunjukan, kebiasaan konsumsi makanan manis berlebih/ kompulsif dapat meningkatkan resiko diabetes, obesitas, membuat perubahan mood sangat berantakan akibat kadar dopamin tubuh menurun sehingga orang cenderung akan lari ke makanan manis untuk menghindari stress dan meningkatkan dopamin dan sebaliknya. Diharapkan dengan adanya pembatasan konsumsi gula/manis dapat menurunkan prevalensi mood disorder, menurunkan kecemasan dan meningkatkan dan mengoptimalkan fungsi neurobiological otak.