FAQ
Tentang Asupan Garam

Dijawab oleh Ahli Gizi Dietela
Rusda Kuddah, S.Gz, R.D.

Takaran konsumsi garam di setiap negara bisa bermacam macam tergantung dari iklim di negara tersebut. Di Indonesia sendiri dengan iklim tropis, membuat kebutuhan natrium seseorang menjadi lebih tinggi. Kementerian Kesehatan RI memberikan anjuran konsumsi garam maksimal sebanyak 1 sendok teh garam/orang/hari setara 5 g garam/orang/hari dan setara 2000 mg natrium/orang/hari. Anjuran tersebut sesuai batas GGL (gula, garam, lemak). Perlu diketahui bahwa natrium adalah salah satu komponen dalam garam yang menurut berbagai penelitian berhubungan dengan tekanan darah.

WHO menganjurkan untuk membatasi konsumsi natrium maksimal 2400 mg / hari atau 1 sdt (5-6 gram) garam / hari pada kondisi dewasa (usia 16 tahu keatas) sedangkan batasan asupan natrium untuk anak anak (usia 2 – 15 tahun) maks 800 mg / hari atau ½ sdt (2-3 gram) garam / hari. 

Perbedaan aktivitas harian, tempat tinggal, usia serta kondisi penyerta khusus membuat batasan konsumsi natrium atau garam setiap orang menjadi berbeda beda sehingga diperlukan pengaturan personal pada tiap kondisi tersebut.

Beberapa makanan tinggi kandungan garam maupun natrium. Makanan tersebut adalah:

  1. Semua jenis makanan dengan rasa asin seperti garam, kecap asin, ikan asin 
  2. Beberapa jenis saus, seperti saus tiram, saus sambal, saus tomat
  3. Micin / MSG 
  4. Makanan cepat saji, misalnya pizza, ayam goreng, kentang goreng

Tetapi terdapat beberapa makanan lain yang tinggi kandungan garam atau natrium meskipun rasanya tidak asin, seperti kecap manis, serta semua makanan berpengawet (misalnya makanan kaleng, makanan kemasan, maupun makanan yang difermentasi seperti sauerkraut, miso, dan kimchi). Natrium juga disebut sebagai sodium pada beberapa makanan impor.

Pada kondisi sehat atau tidak ada kondisi khusus, garam atau natrium yang perlu dihitung adalah “garam tambahan” jadi bukan natrium dari bahan alami, tetapi natrium tambahan seperti dari biskuit, kecap, garam, atau kondimen saus lainnya. Garam atau natrium bisa kita dapatkan dari penambahan atau juga garam alami dari bahan makanan. Terdapat beberapa bahan makanan yang sudah mengandung natrium seperti udang, kepiting, ikan teri, daging dan berbagai makanan lainnya. Nmun, natrium alami pada makanan tidak masuk ke perhitungan batasan asupan natrium.

Tetapi pada beberapa kondisi khusus, misalnya kasus gagal ginjal kronik, ataupun darah tinggi / hipertensi, baik natrium alami maupun natrium tambahan perlu diperhatikan konsumsinya, tidak melebihi batas sesuai kondisi. Sehingga pada kondisi – kondisi khusus makanan seperti daging, udang, kepiting, bakso, keju, serta kondimen seperti garam, kecap, saus, MSG dan lainnya perlu dibatasi.

Garam, kaldu bubuk dan MSG merupakan 3 bahan yang berbeda, tetapi pada dasarnya ketiga bahan ini memiliki kandungan natrium yang tinggi. Garam berfungsi untuk memberikan rasa asin pada makanan. Sedangkan kaldu bubuk dan MSG berfungsi untuk mengangkat rasa yang sebenarnya sudah ada dalam masakan. Kaldu bubuk terdiri dari sedikit kaldu dan MSG, sedangkan MSG terdiri dari campuran glutamat dan natrium. Garam, kaldu bubuk, dan MSG sama sama memiliki kandungan natrium, sehingga tidak ada yang lebih sehat dari ketiganya, tetapi tidak ada juga yang lebih buruk. Ketiga bahan ini tidak berbahaya saat dikonsumsi dengan jumlah yang tepat.

Garam himalaya atau lebih dikenal sebagai pink salt, memiliki beberapa kelebihan dibandingkan garam dapur biasa. Garam himalaya mengandung natrium yang sedikit lebih rendah dibandingkan dengan garam dapur biasa, dengan kandungan mineral seperti kalsium, zat besi, magnesium, kalium dan berbagai mineral lainnya. Jadi disimpulkan dari segi natrium, dapat dikatakan tidak ada perbedaan yang signifikan antara garam himalaya ataupun garam dapur, tetapi jika mempertimbangkan kelengkapan mineral, garam himalaya lebih baik digunakan. 

Pada penderita hipertensi, baik penggunaan garam himalaya maupun garam dapur tetap sama sama perlu dibatasi maksimal 5 g dalam sehari atau kurang dari 2000 mg natrium sehari. Tetapi jika ada kondisi tambahan lain seperti gagal ginjal kronik, sebaiknya tidak menggunakan garam himalaya, karena kandungan mineral yang lebih tinggi dapat mempengaruhi kerja ginjal secara keseluruhan.

Garam mengandung senyawa natrium yang bersifat menarik air di dalam tubuh. Ketika garam dikonsumsi secara berlebihan, maka kandungan air di dalam tubuh pun akan meningkat, sehingga kadang terasa lebih haus. Karena kondisi air yang banyak di tubuh, volume darah pun akan meningkat, sehingga kerja jantung menjadi lebih berat dan peningkatan tekanan pada pembuluh darah. 

Asupan garam / natrium yang berlebih dapat memperberat kerja jantung dalam memompa darah, dikarenakan volume darah yang meningkat. Selain itu, kondisi hipertensi atau tekanan darah tinggi juga bisa meretakkan plak / lemak di pembuluh darah sehingga menutup jalannya darah. Aliran darah menjadi tersumbat dan akan menyebabkan serangan jantung.

Natrium merupakan mineral dan elektrolit yang sangat penting untuk berbagai fungsi tubuh. Natrium bermanfaat untuk menjaga keseimbangan cairan di dalam tubuh serta memiliki fungsi pada peredaran saraf dan otot agar bisa bergerak. Natrium juga berperan dalam mengatur tekanan darah di dalam tubuh bersama dengan kalium. Natrium perlu dikonsumsi setiap hari tetapi dengan jumlah yang tidak berlebih. Sumber natrium bukan hanya dari garam, tetapi garam di Indonesia sudah memiliki fortifikasi bahan lain yaitu yodium. Yodium memiliki peran dalam sintesis hormon tiroid sehingga meminimalisir kasus gondokan.

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi asupan natrium, berikut adalah tips yang bisa dilakukan oleh semua orang termasuk dengan kondisi khusus

  • Lebih banyak menggunakan bahan bahan yang segar, yaitu sayuran, buah buahan, ikan, telur dan ayam, serta mengurangi penggunaan makanan tinggi pengawet atau makanan yang sudah banyak melalui proses (Ultra Processed Food) seperti nugget, sosis, bakso, dsb
  • Mengurangi penggunaan garam dalam masakan, serta lebih banyak menggunakan bumbu tinggi glutamat seperti tomat, bawang merah, bawang putih untuk meningkatkan rasa masakan. Jangan lupa merasakan masakan sebelum menambahkan garam. Penambahan garam dilakukan bukan ketika makanan sedang di masak, tetapi ketika makanan sudah tersaji, sehingga bisa lebih meminimalisir penggunaan garam 
  • Tidak menyediakan garam di meja makan, agar tidak menambahkan garam lagi 
  • Memperhatikan informasi nilai gizi dalam makanan kemasan. Informasi nilai gizi rata rata menginfokan kandungan setiap zat gizi dalam 1 takaran saji, perhatikan rekomendasi takaran saji dari 1 kemasan. Tetap batasi asupan makanan kemasan yang tinggi kandungan natrium 
  • Batasi penggunaan kondimen, seperti saus, mayones, kecap, dan lainnya dengan tidak langsung menuangkan bahan bahan tersebut, tetapi mencocol penggunaan bahan bahan tersebut. Ketika menggunakan makanan kaleng, bisa merendam terlebih dahulu makanan tersebut di dalam air untuk mengurangi kandungan natrium