Bisakah Kita Mencegah Sampah Makanan di Sekitar Kita? Yuk Simak Tipsnya!

Tahukah kamu berapa jumlah sampah makanan atau food waste yang dihasilkan oleh satu orang setiap tahunnya? Dilansir dari Kompas.com, rerata penduduk Indonesia perkapita berkontribusi sebesar 59,8 kg sampah makanan. Sampah tersebut didominasi oleh protein hewani seperti ikan, daging, dan lain sebagainya. Sementara sisanya terdiri dari sayuran kurang lebih 7,3 kg; buah-buahan 5 kg; protein nabati berupa tahu, tempe, dan oncom sebesar 2,8 kg, serta beras mencapai 2,7 kg (1).

Sumber gambar: Freepik

Banyak sekali bukan sampah yang dihasilkan setiap tahunnya? Food waste tersebut secara langsung dan tidak langsung dihasilkan dari akumulasi kegiatan kita sehari-hari. Ada beberapa alasan yang menyebabkan sampah rumah tangga ini menggunung. Mulai dari pembelian bahan makanan yang berlebihan, penyimpanan makanan yang kurang tepat, pemorsian makanan yang tidak sesuai, dan masih banyak lagi (2,3).

Sampah makanan tidak hanya mengganggu pemandangan, tetapi juga menyebabkan pengeluaran gas berbahaya. Food waste dalam jumlah besar dihubungkan dengan emisi gas rumah kaca. Disamping itu, sampah makanan menunjukkan salah satu bentuk kemubadziran. Padahal, kalian dengan manajemen pangan yang tepat, setiap orang bisa mencegah dan meminimalisir 59,8 kg sampah makanan pertahunnya, loh! Lantas, bagaimana cara meminimalisir sampah makanan? Yuk simak uraian Berikut!

Merencanakan Kebutuhan Bahan Makanan Sebelum Berbelanja

Perencanaan makanan tidak hanya sebatas mendata bahan makanan apa saja yang akan dibeli. Akan tetapi, hal ini dapat juga mempertimbangkan stock bahan makanan yang dimiliki dan juga perkiraan kebutuhan. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah memeriksa persediaan bahan pangan yang ada di rumah. Baik itu bahan makanan yang mudah busuk seperti sayuran, buah, dan sumber protein atau bahan makanan yang lebih awet seperti beras, tepung-tepungan, dan lain sebagainya(3).

Setelah mengetahui mengetahui stok bahan, buatlah daftar bahan makanan yang harus dibeli dengan mempertimbangkan kebutuhan. Sebagai contoh, kita hitung kebutuhan buah satu keluarga yang terdiri dari dua orang dewasa. Setiap orang dianjurkan untuk memenuhi 2-3 porsi buah setiap harinya untuk memenuhi kebutuhan gizi seimbang(7). Kita ambil dua porsi buah per hari yang terdiri dari kombinasi jeruk dan pisang. Satu porsi jeruk terdiri dari 1-2 buah jeruk dengan berat bersih total 100 gr dengan estimasi berat dapat dimakan (BDD) 72% (8). Oleh karena itu, untuk mendapatkan 100 gr jeruk siap makan, kita bisa mengambil dua buah jeruk dengan berat total beserta kulit kurang lebih 138 gr. Sementara satu porsi pisang terdiri dari 1 buah pisang ukuran 50 gr. Pisang memiliki BDD 75%, maka berat yang harus dibeli sekitar 87.5 gr, satu ukuran pisang sedang. Berikut rincian perhitungannya:

Jeruk    : 2 orang x 7 hari x 1 porsi x 138 g = 1932 g = 1,9 kg (dibulatkan 2 kg)

Pisang  : 2 orang x 7 hari x 1 buah = 14 buah.

Berdasarkan uraian di atas, kebutuhan buah untuk dua orang dewasa dalam satu minggu terdiri dari 2 kg jeruk dan 14 buah pisang atau kurang lebih setara dengan 1 sisir pisang. Gambaran perhitungan estimasi tersebut dapat diterapkan pada semua jenis bahan makanan, terutama bahan makanan yang mudah busuk seperti sayur, buah, tahu, tempe, dan sumber protein seperti ikan, daging, dan susu. Setelah membeli bahan makanan, Langkah selanjutnya yang harus diperhatikan adalah penyimpanan bahan makanan supaya tidak mudah busuk.

Penyimpanan Makanan Secara Tepat

Setiap makanan memiliki karakteristik tersendiri dan umur simpan yang berbeda. Umumnya makanan yang mengandung air, contohnya buah dan sayur, lebih mudah busuk daripada makanan yang memiliki kandungan air lebih sedikit seperti tepung dan biji-bijian. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan ketika menyimpan makanan diantaranya adalah suhu, kebersihan tempat penyimpanan, pencahayaan, dan perkiraan lama menyimpan makanan(9). Untuk dapat mencapai suhu penyimpanan yang tepat, ukurlah atau pastikan suhu lemari es dan lemari penyimpanan mu sesuai dengan table dibawah ini per jenis bahan makanan.

Tabel Suhu dan Estimasi Durasi Penyimpanan Bahan Makanan (10)

Jenis Bahan MakananDurasi Akan Digunakan
3 hari atau kurang1 minggu atau kurang1 minggu atau lebih
Daging, ikan, udang, dan olahannya-5oC s/d 0 oC-10 oC s/d -5 oC> -10 oC
Telur, susu, dan olahannya5 oC s/d 7 oC-5 oC s/d 0 oC> -5 oC
Sayur dan buah10 oC10oC10oC
Tepung dan biji25 oC atau suhu ruang

Selain suhu dan durasi, penyimpanan bahan makanan juga didasarkan pada karakteristik bahan. Contohnya, sayuran dan buah-buahan seperti pisang, alpukat, tomat, dan kentang menghasilkan gas etilen, gas yang mempercepat pematangan. Sayur dan buah tersebut sebaiknya dipisahkan dari bahan makanan yang lainnya, sebab dapat mempercepat pembusukan pada buah dan sayur lain yang sudah matang. Pengemasan bahan makanan yang menghasilkan etilen disarankan menggunakan kantong polietilen supaya gas yang dihasilkan tidak mempengaruhi bahan makanan lainnya(3).

Disisi lain, ada beberapa buah-buahan yang akan rusak apabila disimpan pada suhu yang terlalu rendah. Buah-buahan tersebut diantaranya adalah pisang, melon, pepaya, dan alpukat. Buah-buahan ini hendaknya disimpan pada tempat yang sejuk atau refrigerator dengan suhu berkisar 10-15 oC. Beberapa sayuran seperti kentang dan wortel akan lebih awet apabila disimpan pada tempat yang terhindar dari paparan cahaya matahari secara langsung. Sebab, cahaya matahari dapat menyebabkan munculnya tunas (3).

Memperhatikan Umur Simpan dan Kadaluarsa pada Makanan

Hal-hal yang perlu diperhatikan ketika menyimpan makanan ataupun bahan makanan adalah umur simpan. Setiap bahan makanan memiliki umur simpan yang berbeda-beda. Sebagai contoh daging lebih mudah busuk dibandingkan sayuran apabila dibiarkan pada suhu ruang dalam jangka waktu tertentu. Proses pembusukan makanan ditandai oleh adanya perubahan warna, bau, tekstur, dan rasa. Daging busuk biasanya berwarna pucat dan mengeluarkan aroma tidak sedap. Sayuran yang hampir busuk memiliki warna kekuningan, layu, dan tekstur menjadi lebih rapuh. Beberapa sayuran seperti tomat, paprika, atau cabai yang hampir busuk berciri lunak, kulit mengkerut, dan mudah dihancurkan. Sementara buah-buahan yang hampir busuk biasanya memiliki warna kecoklatan dan tekstur menjadi gempur atau lunak (3).

Disamping mengamati ciri fisik makanan, masa simpan suatu produk juga dapat dilihat dari tanggal kadaluarsa yang ada pada kemasan. Secara garis besar, ada pelabelan tanggal kadaluarsa ditulis dalam bentuk use by date (digunakan pada tanggal) dan best before (baik sebelum). Use by date merujuk pada keamanan makanan. Makanan yang sudah melewati tanggal tersebut sebaiknya tidak dikonsumsi, sebab bisa jadi makanan tersebut sudah ditumbuhi bakteri atau jamur yang berbahaya bagi kesehatan. Sementara best before berkaitan dengan kualitas dan kesegaran makanan. Makanan yang sudah melewati tanggal best before, bisajadi masih bisa dikonsumsi meskipun kualitasnya menurun (3). Akan tetapi, perhatikan kondisi tubuh masing-masing, ya! Sebab setiap orang memiliki respon yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi.

Mencegah Sisa Makanan (Leftovers)

Makanan sisa dapat diminimalisir mulai dari proses pemasakan. Upayakan untuk memasak makanan sesuai porsi dan estimasi frekuensi makan. Sebagai gambaran, satu ikat bayam dapat dikonsumsi 2-3 orang dalam sekali makan. Maka sesuaikan jumlah bahan makanan sebelum dimasak. Perhatikan pula ketahanan setiap masakan. Misalnya sayur bening bayam wortel hendaknya dikonsumsi tidak lebih dari 8 jam, sebab cita rasa bayam akan menurun. Oleh karena itu, sayur bayam sebaiknya segera dikonsumsi setelah dimasak. Sementara sayur gudeg yang dibuat dari nangka muda, memiliki ketahanan yang lebih lama. Sayur tersebut masih memungkinkan untuk dilakukan pemanasan berulang. Meskipun begitu, kandungan gizi makanan tetap perlu dipertimbangkan. Pemanasan makanan berulang kali akan menurunkan komponen gizi, khususnya vitamin yang rentan terhadap panas (3).

Hindari menyimpan lauk atau sayuran yang masih tersisa pada kulkas. Sisa lauk dan sayur yang disimpan di kulkas mayoritas akan dibuang. Makanan tersebut biasanya akan terlupakan, mulai membusuk, dan akhirnya akan dibuang. Terkadang, orang menyimpan makanan di kulkas untuk mengurangi rasa bersalah ketika membuang santapan tersebut. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa rata-rata orang tidak ingin menggunakan atau mencampur makanan sisa pada hidangan baru yang akan disantap. Hal tersebut disebabkan karena sejatinya orang lebih suka mengonsumsi makanan baru dan segar. Terlebih makanan sisa juga diragukan kelayakan dan keamannya. Pada akhirnya makanan sisa yang disimpan di kulkas akan terbuang juga(3).  Oleh sebab itu, lebih baik mengantisipasi makanan sisa dengan menerapkan pegalokasian makanan sesuai kebutuhan (3).

Leftovers atau sisa makanan juga seringkali ditemukan di lunch box anak sekolah. Sebagian orang tua menilai bahwa nafsu makan anak mereka sedang tidak optimal, sehingga hidangan yang dibekalkan masih tersisa. Padahal, bisa jadi bekal yang dibawa tidak sesuai porsi untuk anak, sehingga anak tidak dapat menghabiskan kudapan tersebut. Leftovers juga bisa ditekan dengan menggunakan peralatan makan yang tepat. Gunakanlah peralatan makan, terutama piring, yang tidak terlalu besar. Sebab, peralatan makan yang besar membuat orang cenderung mengambil makanan lebih banyak untuk memenuhi isi piringnya. Padahal, belum tentu orang tersebut mampu menghabiskan makanan yang telah diambil pada wadah besar tersebut (3).

Langkah terakhir, upayakan untuk menghabiskan setiap makanan yang sudah diambil pada piring makan kita. Untuk dewasa, porsi pengambilan makanan dapat mengikuti pedoman ‘Piring Makanku: Sajian Sekali Makan’. (7). Ahli Gizi dapat memandu bagaimana mengetahui porsi yang sesuai untuk setiap individu dan memahami bagaimana menyiapkan list daftar bahan makan untuk belanja agar tidak adanya sisa makanan yang berlebih. Yuk mulai sadar dengan sisa makan, konsultasikan dengan Ahli Gizi untuk mempelajari porsi makanan sehari-hari yang cukup sesuai kebutuhan dan sehat.

Editor: Mayesti Akhriani, S.Gz, MSc

Referensi

  1. Media KC. Sampah Makanan Indonesia Tembus 16,3 Juta Ton Per Tahun, Ini Kata Pakar UGM Halaman all [Internet]. KOMPAS.com. 2022 [cited 2023 Jan 27]. Available from: https://www.kompas.com/edu/read/2022/08/31/091518071/sampah-makanan-indonesia-tembus-163-juta-ton-per-tahun-ini-kata-pakar-ugm
  2. Amrita PT. SAMPAH MAKANAN atau FOOD WASTE. 2019;
  3. Hebrok M, Boks C. Household food waste: Drivers and potential intervention points for design – An extensive review. J Clean Prod. 2017 May 10;151:380–92.
  4. Rahman A, Ramli M. Literasi Sampah Sisa Makanan Terhadap Warga Perumahan Manyingarri Permai di Desa Pakkabba. J Pengabdi Kpd Masy. 2022;2(2).
  5. Reynolds C, Goucher L, Quested T, Bromley S, Gillick S, Wells VK, et al. Review: Consumption-stage food waste reduction interventions – What works and how to design better interventions. Food Policy. 2019 Feb 1;83:7–27.
  6. BKPK H. SSGI Tahun 2022 untuk Peroleh Angka dan Determinan Stunting [Internet]. Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan | BKPK Kemenkes. 2022 [cited 2023 Feb 14]. Available from: https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/ssgi-2022-untuk-peroleh-determinan-dan-angka-stunting/
  7. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2014 tentang Pedoman Gizi Seimbang [Internet]. Kementrian Kesehatan Republik indonesia; 2014. Available from: http://hukor.kemenkes.go.id
  8. Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat. Tabel Komposisi Pangan Indonesia. Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik Indonesia; 2018.
  9. Lestari TRP. Keamanan Pangan Sebagai Salah Satu Upaya Perlindungan Hak Masyarakat Sebagai Konsumen. Aspir J Masal-Masal Sos. 2020 Jun 30;11(1):57–72.
  10. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1096/MENKES/PER/VI/2011 Tentang Higiene Sanitasi Jasaboga. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia;