Bukan Hanya Rasa Makanan, Ternyata Ini Hal yang Pengaruhi Pilihan Makan Kita!

Cara setiap orang menentukan apa yang akan dimakan, kapan akan makan, seberapa banyak akan makan, bahkan apakah ingin makan atau tidak merupakan hal yang sangat personal (pribadi).1 Tahukah Anda bahwa pilihan makan kita bukan hanya dipengaruhi oleh rasa makanan saja?  Ada banyak  hal yang memengaruhi kita dalam memilih makanan. Secara umum, faktor yang memengaruhi pilihan makan dapat dibagi menjadi 2, yaitu faktor individu dan faktor lingkungan. Mari kita cari tahu apa saja faktor individu (dari diri sendiri) yang memengaruhi pilihan makan kita!

Sumber gambar: Freepik

A. Preferensi makan

Seseorang cenderung mengonsumsi makanan  yang mereka sukai. Tradisi, agama, dan nilai sosial di lingkungan seseorang mungkin menentukan makanan apa yang dianggap pantas atau tidak untuk dikonsumsi. Namun, preferensi setiap orang terhadap rasa, aroma, penampilan, dan tesktur makanan merupakan hal yang pada akhirnya menentukan konsumsi suatu makanan.2 Dua preferensi utama yang dimiliki banyak orang adalah preferensi terhadap rasa manis gula dan asin dari garam. Makanan tinggi lemak juga menjadi preferensi umum. Pada beberapa bagian dunia, terdapat juga preferensi terhadap rasa pedas 1 (termasuk di Indonesia).

Kecendrungan menyukai rasa manis merupakan preferensi alami yang terbentuk pada manusia. Kesukaan terhadap rasa asin, asam, dan pahit akan berkembang kemudian. Saat masa anak-anak, preferensi terhadap makanan yang padat energi meningkat (misalnya makanan berlemak dan manis). Namun secara genetik, setiap orang memiliki perbedaan sensitivitas terhadap rasa yang mungkin saja berkaitan dengan pola konsumsi makanan.3

Preferensi makanan berkembang melalui proses belajar dengan cara mengonsumsi makanan secara berulang, familiaritas, dan pengalaman menyenangkan yang dirasakan berkaitan dengan makanan. Pengalaman makan pada tahun-tahun awal kehidupan memengaruhi perkembangan pola makanan seseorang seumur hidupnya. Jika anak terpapar makanan tinggi gula, garam, lemak pada awal kehidupannya maka preferensi makannya akan cenderung pada makanan yang memiliki citarasa asin, manis dan gurih yang lebih kuat.dapat terbentuk. Maka itu, penting untuk membangun familiaritas pada pilihan makan yang sehat, seperti biji padi-padian utuh (whole grain), ikan, telur, polong-polonga, buah, dan sayur.3

B. Penerimaan makanan

Penerimaan makanan (tingkat kesukaan terhadap suatu makanan) dipelajari berdasarkan pengalaman terkait makanan. Hal tersebut dapat dipelajari berdasarkan paparan berulang terhadap makanan tertentu. Anak-anak akan memiliki penerimaan yang lebih baik terhadap makanan tertentu jika ibunya mengonsumsi makanan tersebut ketika hamil, menyusui, maupun diberikan dalam MPASI (makanan pendamping air susu ibu).3

C. Kebiasaan

Terkadang, seseorang memilih makanan tertentu karena merupakan suatu kebiasaan. Misalnya, seseorang makan sereal atau nasi uduk setiap pagi karena ia selalu konsumsi sereal atau nasi uduk saat sarapan. Hal tersebut dilakukan karena mengonsumsi makanan yang familiar dan tidak harus membuat keputusan dapat dianggap sebagai hal yang membuat nyaman. 1

D. Pengetahuan, persepsi, kepercayaan (belief), dan sikap terhadap makanan

Kepercayaan dan persepsi terhadap makanan dapat memengrauhi pilihan makan. Misalnya, seseorang yang percaya bahwa makanan “organik” lebih sehat membuat orang akan memilih untuk mengonsumsi bahan makanan organik.3

E. Nilai

Kepercayaan (agama), pandangan politis, atau perhatian pada lingkungan dapat memengaruhi pilihan makan seseorang. Contohnya 1:

  • Dalam agama Islam konsumsi babi, alkohol, dan beberapa makanan atau minuman lainnya diharamkan.
  • Beberapa vegetarian memilih makanan yang mereka makan dan tidak makan berdasarkan dukungan mereka terhadap hak hewan.
  • Beberapa konsumen lebih memilih makanan atau minuman yang dibungkus dalam kemasan yang dapat digunakan kembali atau didaur ulang karena perhatian mereka pada lingkungan.

F. Status emosional

Emosi terkait dampak negatif atau positif dari konsumsi makanan tertentu dapat memengaruhi pilihan makanan.3 Beberapa orang dapat kehilangan nafsu makan ketika kondisi emosi mereka kurang baik, namun beberapa orang lainnya justru makan lebih banyak sebagai respon terhadap stimulus (rangsangan) emosi, misalnya saat bosan, cemas, atau depresi. Makanan memang dapat memengaruhi reaksi kimiawi dalam otak dan respon pikiran.1 Makanan dianggap dapat mewakili kenyamanan, kasih sayang, dan rasa aman.2

Makanan dianggap harus enak, familiar, dan menyediakan kenyamanan secara emosional. Maka dari itu, saat ini aspek emotional eating semakin dipertimbangkan ketika merancang edukasi gizi. Emotional eating merupakan kecendrungan bahwa seseorang harus mengatur mood-nya dengan mengonsumsi makanan yang kurang sehat (terutama tinggi gula, garam, atau lemak) atau harus makan dalam jumlah banyak. Hal tersebut seringkali akibat gaya hidup yang penuh stres. Misalnya, ketika sedih, seseorang akan makan 2 potong cake cokelat. Perilaku tersebut dapat mendorong peningkatan berat badan dan menghambat penurunan berat badan. Emotional eating juga memiliki dampak buruk pada citra tubuh, kesehatan, dan kepercayaan diri seseorang.3

G. Status kesehatan

Seseorang yang memiliki alergi terhadap makanan tertentu, gangguan pencernaan, penyakit pada gigi dan mulut, dan kondisi kesehatan tertentu lainnya dapat memiliki pilihan makan yang lebih terbatas, yaitu mereka akan memilih makanan yang aman dan nyaman untuk dikonsumsi.2

H. Tingkat sosioekonomi

Tingkat sosioekonomi juga memengaruhi kebiasaan makan. Misalnya, orang yang memiliki status sosioekonomi tinggi di negara maju memiliki kualitas diet yang lebih baik.3 Faktor sosiekonomi, seperti tingkat pendapatan, kondisi kehidupan, tingkat pendidikan, dan gaya hidup memengaruhi jumlah dan jenis makanan yang tersedia. Seseorang yang memiliki pendapatan yang terbatas hanya dapat memilih jenis dan jumlah makanan yang dapat mereka beli.2 Sayangnya, saat ini, banyak makanan yang terjangkau mengandung gula, garam, atau lemak yang tinggi. Contohnya gorengan, cilor, cireng, seblak, ayam tepung (fried chicken).

I. Pekerjaan dan waktu kerja

Pekerjaan dan waktu kerja memengaruhi seseorang untuk menyiapkan makanan sehat. Orang yang memiliki jam kerja yang panjang dapat merasa lebih sulit menerapkan pola makan sehat. Hal tersebut dapat menyebabkan lebih sedikit konsumsi produk makanan segar dan seringnya mengonsumsi fast food dan ultraprocessed food yang tinggi energi, namun tidak kaya gizi.3

Ternyata, hal-hal yang memengaruhi pilihan makan kita beragam. Meskipun ada tantangan, namun bukan tidak mungkin kita tetap bisa membangun pilihan makan yang sehat. Bersama , kamu bisa mengubah pola makan sehat menjadi lebih sehat dengan nyaman dan hasilnya bertahan lama.

Editor: Wahyu Kurnia Yusrin Putra, SKM, MKM

Referensi

  1. Whitney E, Rolfes SR. Understanding Nutrition. 16th ed. Boston: Cengage Learning, Inc., 2022.
  2. Smolin LA, Grosvenor MB, Gurfinkel D. Nutrition: Science and Applications. 3rd ed. Toronto: John Wiley & Sons Canada, Ltd., 2020.
  3. Galanakis CM (ed). Trends in Personalized Nutrition. Massachusetts: Academic Press, 2019.